hindari video porno dari anak – anak..!!

Akhir-akhir ini, para orangtua merasa waswas dan cemas lantaran menyebarnya video porno dalam berbagai bentuk. Untuk mengaksesnya pun amat mudah di antaranya melalui piranti bluetooth yang tersedia di setiap handphone berkamera. Kasus paling aktual adalah merebaknya rekaman video mesum yang melibatkan perangkat desa di Ceper, Klaten dan seorang siswi SMP. Kasus hampir serupa yang juga bikin heboh adalah sisipan gambar atau pun adegan porno dalam VCD/DVD Power Rangers yang lazim ditonton anak-anak. Konon, seorang anak SD kelas 5 di Kota Solo bernama Andrea tiba-tiba menjerit dan berlari ketakutan saat tengah menonton DVD Power Rangers di rumahnya. Orangtuanya kaget ketika mengetahui sumber ketakutan anaknya berasal dari adegan panas dalam film anak-anak tersebut. Sungguh, sebuah kejadian yang patut membuat para orangtua miris dan khawatir dengan perkembangan mental anak-anaknya. Sebelumnya, kasus serupa juga ditemukan di Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Lantas, bagaimanakah seharusnya kita menyikapi pelbagai peristiwa ini? Bukankah anak-anak adalah buah hati yang harus kita jaga dan kita didik agar menjadi generasi penerus bangsa yang bermoral dan berwatak mulia, jujur, adil, dan tidak korup? Penjelasan apakah yang dapat diberikan berkaitan dengan merebaknya praktik pornoaksi yang mengintai anak-anak kita? Dalam kacamata para pemikir pascamodernis, dunia sekarang tengah dilanda oleh kepanikan global berkenaan dengan lenyapnya berbagai bentuk materi sebagai akibat dari wacana kapitalisme mutakhir: lapisan ozon, hutan tropis, air bersih, oksigen, harimau Sumatra; namun dunia seolah-olah tak peduli dengan terkikis dan lenyapnya lapisan-lapisan moral, spiritual, dan kemanusiaan di tengah-tengah deru ekonomi kapitalisme global yang menuju titik ekstremnya dewasa ini. Menyusutnya jumlah habitat orang hutan Sumatra telah menimbulkan kepanikan masyarakat dunia berkenaan dengan masa depan kehidupan umat manusia, tetapi lenyapnya dimensi moral, kehangatan spiritual dan makna kemanusiaan di dalam industri media massa, komoditi dan tontonan global yang bersifat hiperealis dewasa ini tak sedikit pun mengusik kesadaran nurani kemanusiaan. Maka, menyisipkan adegan porno dalam DVD/VCD anak-anak pun dianggap hal lumrah sebagai bagian dari strategi menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Dan tujuan satu-satunya adalah keuntungan ekonomi. Para pembuat video porno ini sama sekali tidak peduli dengan perkembangan mental, dimensi spiritual, dan pembangunan karakter serta kepribadian anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Mereka hanya peduli dengan uang, uang, dan uang. Apa pun caranya, seberapa pun merusak efek yang ditimbulkan, jika mendatangkan keuntungan semuanya akan dilakukan. Jean Baudrillard menyatakan bahwa dengan terbuka lebarnya belenggu hawa nafsu, maka pusat gravitasi dunia kini telah digantikan oleh apa yang disebutnya libido ekonomi, yaitu yang berkaitan dengan perkembangbiakan dan naturalisasi hawa nafsu. Di dalam ekonomi libido, apa pun diproduksi, apa pun normal, apa pun tanpa rahasia, apa pun nyata. Mengalir dan berpusatnya hawa nafsu di dalam masyarakat ekstasi, mengikuti hukum mengalirnya nilai tukar dalam sistem ekonomi pasar bebas: mesin (hawa nafsu) harus berputar, model harus berganti secara terus-menerus, penampilan harus diperbarui. Seperti halnya perputaran modal, perputaran hawa nafsu tak akan pernah terpenuhi, tak ada ujungnya. Dekonstruksi Di dalam masyarakat konsumer dan ekstasi yang seluruh energi dipusatkan bagi pembebasan dan pemenuhan hawa nafsu, di dalamnya wacana komunikasi tidak lagi ditopang oleh sistem makna dan pesan-pesan, melainkan oleh sistem bujuk rayu—sebuah sistem komunikasi yang menjunjung tinggi kepalsuan, ilusi, penampakan ketimbang makna-makna. Ekstasi adalah kondisi mental dan spiritual di dalam diri setiap orang yang berpusar secara spiral, sampai pada satu titik ia kehilangan setiap makna, dan memancar sebagai sebuah pribadi yang hampa. Seseorang yang tenggelam di dalam perpusaran siklus hawa nafsunya, pada titik ekstrem menjadi hampa akan makna dan nilai-nilai moral. Bagi seseorang yang tenggelam dalam ekstasi, dunia ini tidak bersifat dialektis, melainkan bergerak menuju titik ekstrem; tidak bergerak ke arah keseimbangan, melainkan menghambakan dirinya pada antagonisme radikal; tidak menuju ke arah rekonsiliasi atau sintesis moral, melainkan ke arah dekonstruksi segala asumsi-asumsi moral. Di dalam kebudayaan yang dikuasai oleh hawa nafsu ketimbang kedalaman spiritual, sebuah revolusi kebudayaan tak lebih dari sebuah revolusi dalam penghambaan diri bagi pelepasan hawa nafsu.

Norma-norma dan moralitas yang mengatur (membatasi) hawa nafsu didekonstruksi dengan melepaskan belenggu dan membiarkan hidupnya dalam keanekaragaman bentuk seksual dan erotika, sehingga lenyaplah perbedaan antara normal dan abnormal; dengan membuka selubung diri selebar-lebarnya, sehingga lenyaplah rahasia; dengan membuka katup dan membiarkan modal (kapital) mengalir sebebas-bebasnya sehingga lenyaplah nilai guna; dengan menghanyutkan diri sedalam-dalamnya pada gairah kesenangan citraan dan tontonan sehingga lenyaplah batas antara realitas dan fantasi. Revolusi kebudayaan ini yang mencapai titik ekstremnya akan semakin mempersempit ruang bagi perenungan, penghambaan kepada Tuhan, dan pencerahan spiritual. Segala yang tersembunyi sebagai satu rahasia pribadi dan mendapatkan status terlarang pada masa lalu, kini merupakan realitas yang menjadi tontonan dan akhirnya menjadi milik massa. Aura seksual lenyap di tengah hutam rimba model atau representasi seksual. Ini adalah sebuah titik balik dari modernitas dan kembalinya manusia ke dalam era primitif—era modern yang primitif. Di dalam masyarakat transparan sekarang ini, tak ada lagi makna seksual pada sebuah betis, misalnya, karena betis kini telah kehilangan auranya. Pada masa lalu, makna itu muncul karena ia masih menyimpan dimensi rahasia di dalam ketertutupannya. Untuk mengembalikan dan membangun aspek-aspek moral dan spiritual dalam diri anak dibutuhkan usaha bersama dan terus-menerus dengan senantiasa memperhatikan sisi kemanusiaan sang anak sebagai pribadi yang unik dan berkarakter. Harus dibangun hubungan yang manusiawi antara orangtua-anak atau guru-murid. Hubungan ini hendaknya tidak hanya bersifat fungsional, tapi juga melibatkan hubungan personal. Hubungan ini hendaknya bersifat pendampingan yang dialogis dan dinamis. Proses pendampingan ini mengisyaratkan adanya hubungan timbal-balik. Hubungan timbal-balik itu terletak pada sikap saling mengakui sebagai manusia, sebagai pribadi. Pengakuan ini berarti saling menerima kedirian, keberlainan serta keterbatasan masing-masing.

~ oleh nahwan erlingga di/pada Mei 8, 2008.

Tinggalkan Balasan